Jika ada pertanyaan "apakah kodrat perempuan itu"?? Aku setuju dengan pendapat Siti Musdah Mulia (intelektual muslim dalam bukunya Muslimah Reformis), kodrat perempuan yang terberi oleh alam adalah hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah hasil konstruksi sosial dan budaya manusia yang terpelihara sejak peradaban manusia ada sampai sekarang. Apakah mengasuh anak juga hasil konstruksi sosial yang dibebankan pada perempuan. Menurut buku itu 'ya betul', dan aku setuju.
Urusan domestik rumah tangga termasuk mengasuh anak adalah kesepakatan, keridoan, keikhlasan, dan hak perempuan. Jika ada hujatan terhadap perempuan yang ingin berkiprah di ranah publik sebagai "melawan kodrat", maka si penghujat benar benar tidak tahu esistensi kodrat itu yang sebenarnya. Dia menghujat perempuan yang sudah dibentuk oleh budaya, dibentuk oleh konstruksi sosial. Dan itu seperti menorehkan ujung pisau ke kemanusiaan perempuan. Tentu saja si penghujat tidak bersalah, dia hanya meneruskan budaya yang sudah terwarisi.
Perempuan sendiri sudah terberi oleh alam mekanisme psikologi dan fisik untuk melangsungkan kehidupan keturunannya. Kondisi tersebut dijadikan senjata untuk 'mendomestikkan' perempuan, pertanyaannya oleh siapa? Tentu saja oleh penguasa sejak ada peradaban manusia, dan kekuasaan adalah patriarkhal...sangat.
Opini ini bukan untuk melawan budaya, hanyalah setitik usaha dekonstruksi sosial yang sudah dimulai oleh para feminis muslim. Pasti banyak yang berpendapat, bukankah sudah banyak perempuan2 yang berkiprah di ranah publik dan juga berprestasi di sana. Memang benar, fakta sudah banyak membuktikan, tapi sayangnya hanya sebatas di lingkungan terdidik saja. Sedangkan yang terjadi di masyarakat kelas bawah sungguh mengenaskan. Alasan ekonomi membuat banyak perempuan mencari nafkah, dan bertanggung jawab penuh terhadap urusan domestik. Sungguh suatu tanggung jawab yang berat.
Sedangkan di kelas menengah, terjadi ambigu, sudah ada kesadaran untuk memberi ruang publik pada perempuan, dan urusan domestik rumah tangga menjadi kesepakatan kerja sama dalam rumah tangga...alhamdulillah. Tetapi satu pihak yang menganggap bahwa 'ranah publik' itu ada atas jasanya, atas ijinnya. Mereka masih enggan beranjak dari premis bahwa "ruang publik juga milik perempuan". Jadi mereka menganggap merekalah yang telah berjasa 'untuk tidak mendomestikkan perempuan'.
Sedangkan di kelas lain yang lebih terdidik (bukan pendidikan akademis maksudnya), Sudah banyak pihak yang telah tercetak 'blue print' di pemikirannya bahwa ruang publik adalah milik bersama (laki laki dan perempuan). Tidak ada pihak yang merasa berjasa (dalam relasi pernikahan), dan tidak ada pihak lain yang merasa menerima jasa atas ruang publik yang telah dinikmatinya. Jadi tidak ada yang merasa bersalah, tidak ada yang merasa berjasa, dan tidak ada pihak yang harus berterimakasih.
Ahhh...utopia?? tentu saja bukan.
Agustus 20, 2009
Kodrat
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
21:02
0
komentar
Maret 10, 2009
Kemahalan?? Nggak Juga
Sudah lama blog ini terbengkalai, semenjak persalinan hingga gadis kecilku Keenant sekarang usia hampir 5 bulan. Bingung karena kemampuan menulis sudah menurun, padahal dulu juga gak pinter.
Hari ini ingin bercerita tentang kunjungan ke Klinik Mata Malang (Malang Eye Center) yg relatif baru, bertempat di jalan yg sama dengan sekolahku dulu SMPN 3 Malang. Si sulung sakit mata, merah dan bengkak dan sudah berhari2. Karena males cari praktek dokter mata yg buka siang hari, ya akhirnya ambil jalan pintas ke Klinik Mata tsb, namanya klinik mata pasti ada aja dokternya, gak hanya sore hari.
Dari tongkrongannnya yang lumayan megah untuk sebuah Klinik, bisa diasumsikan siapa pasar yang dituju. Masuk ke gedungnya semakin memperbesar asumsiku, rada grogi juga ntar mahal banget tarifnya. Begitu masuk langsung dismabut oleh ruangan yg sejuk karena berpendingin, dilengkapi dg apotik, gerai kacamata, dan sofa yg empuk.
Setelah registrasi di reception, si sulung digiring ke sebuah ruangan...yang ternyata ruangan refraksionis. Dengan keramahan petugas refraksionisnya yang simpatik...aku masih belum menyadari kalau ini sebenarnya adalah 'jebakan halus'. Bagi yang tidak membutuhkan jasa refraksionis...he he buat apa masuk dan menerima pelayanan ini. Si sulung diperiksa matanya, apakah ada kelainan myiopia, atau silindris atau sejenisnya...dan ternyata aman2 saja, artinya gak perlu pakai kacamata.
Keluar dr ruangan tsb, menuju ke ruang tunggu dokter mata, sambil jelalatan melihat begitu apiknya ruangan tsb ditata. Pasien masih sedikit...untung gak pake ngantri. Sambil menunggu, berpikir ttg jasa refraksi tadi, boleh juga nih trik marketingnya. Pasien baru digiring untuk menerima pelayanan refraksi tsb, entah itu atas permintaan atau bukan. Memang sih pelayanan tsb di optik2 adalah gratis, krn jualan utama mereka adalah kaca mata, jadi jasa refraksi adalah semacam bonus yang bisa menggiring seseorang utk memakai kaca mata. Dan untuk orang2 di segmen pasar yg dituju klinik ini, aku yakin pastilah gak merasa keberatan untuk digiring seperti itu. Walaupun aku sebenarnya lebih berprinsip memakai jasa kesehatan sesuai peruntukannya dan tdk memerlukan jasa2 bonus yg gak aku perlukan...he he efisiensi biaya. Tapi kali ini untuk anakku, tidak apalah...meskipun harus merogoh kantong agak dalam.
Tiba giliran si sulung, ruangan periksa dokter cukup apik. Ada beberapa sofa dan meja pendek, yg di tempat lain pasti hanya meja tulis dan sebuah kursi untuk dokter dan sebuah lagi untuk pasien. Dokternya pun simpatik, melayani dg ramah...iyalah untuk servis pada kelas ekonomi tertentu, perilaku dokter sangat menentukan. Dokternya seorang perempuan muda, cantik dan modis. Berperilaku menyenangkan pada seorang anak...he he si sulung jadi merasa betah. Menyarankan obat juga sekaligus menggiring untuk membeli obat yg lebih mahal, drop eye yang berbentuk deretan tube2 kecil, yang katanya sih gak pake pengawet...okelah, siapa yg bisa menolak kalau yg menyarankan seorang dokter muda cantik yg ramah. He he jadi terpesona dengan jiwa muda, yang menjanjikan profesionalitas dan keenerjikan. Masih Muda sdh jadi spesialis.
Tiba saatnya giliran menunaikan kewajiban, alias ke Kasir. Setelah ditotal akhirnya keluar juga angkanya, Rp. 170rb, 110rb untuk jasa dokter, entah sdh termasuk jasa refraksionis atau digratiskan, dan 60rb untuk obat. He he lumayan juga, klo dibandingkan dg layanan praktek dokter biasa yang paling2 untuk jasa dokter spesialis max adalah 70rb.
Aku segera posting status di Facebook, utk menyatakan salut dg layanan Klinik Mata tsb. Rasa salutku lebih pada strategi jualan mereka. Beberapa komen dr teman2 di FB yang pada intinya menyatakan layanan mereka adalah 'over cost', hati hati ntar di-charge mahal.
Bukan ingin menjadi sok penyuka layanan mahal, aku hanya ingin belajar 'strategi jualan' mereka. Mereka dengan sadar menyasar target pasar tertentu dan bermain dengan strategi pelayanan bak hotel berbintang. Konsumen di kelas tsb pasti tdk ada yang keberatan dengan tarif layanan yg relatif lebih mahal. Konsumen yg tidak perlu bersusah payah berpikir tentang 'jebakan halus' seperti yang aku pikirkan, dan tidak menyadari telah digiring2 utk membeli obat yg lebih mahal. Isn't that interesting?? Kata Brad Sugars.
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
19:22
2
komentar
Agustus 20, 2008
Buku 'Ganti Hati' - Dahlan Iskan Sang Inspirator
Ini buku lama yg baru sempat terbaca...dengan gaya penuturan yg ringan tapi lugas ala Dahlan Iskan (Owner & CEO Group Jawa Pos), sesuatu yg sebenarnya 'menyeramkan' bagi orang awam jadi seperti cerita ringan mengalir lancar. Mungkin karena yg menulis adalah mantan wartawan. Kenapa 'menyeramkan' karena Pak Dahlan menjelaskan dengan detil segala sesuatu yg berbau medis tentang operasi dan keadaan pasca operasi transplantasi hati/liver-nya. Apalagi disertai beberapa foto. Aku memang sangat suka dengan hal2 medis...bagiku dunia medis seperti 'dunia lain' yang menantang untuk diketahui.
Pesan2 yang tersurat di buku ini sangat bagus untuk direnungkan...meski penjelasannya ringan dan kadang bikin senyum geli. Pak Dahlan memutuskan untuk melakukan tranplantasi liver dg mantap dan terencana, tanpa ragu sedikitpun akan kegagalan hasilnya. Karena dia percaya bahwa takdir bisa diubah.
Pak Dahlan menyebutkan bahwa keberhasilan operasinya karena 2 hal utama, selain karena mukjizat Tuhan juga keahlian tim dokter yg melaksanakan operasi tsb. Beliau percaya dan menghargai ilmu pengetahuan. Kadang orang sering melupakan jasa ilmu pengetahuan, sehingga sering menihilkan peranannya. Ahh seandainya operasi Cak Nur (Nurcholis Madjid) tokoh muslim idolaku juga berhasil seperti operasi Dahlan Iskan...walahualam.
Dalam buku ini juga ada sekelumit kisah perjalanan Dahlan membesarkan bisnisnya 'Group Jawa Pos'. Nasihatnya bagi pemula bisnis yg datang dari keluarga bukan pebisnis...yang aku ingat nih...adalah sabar dan fokus. Orang yang ingin dan baru mulai bisnis tapi bukan dari keluarga pebisnis umumnya tidak sabaran, maunya cepat dan langsung besar. Keinginannya banyak sekali untuk mengembangkan bisnis langsung ke banyak hal. Inilah umumnya yang membuat banyak kegagalan.
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
20:35
0
komentar
Juli 18, 2008
Milad I TDA Ngalam - Candid Camera by Paparazzi
Milad I TDA Ngalam sudah selesai digelar, tanggal 13 Juli 2008. Secara keseluruhan acara lancar dan sukses meskipun banyak yg harus diperhatikan di sana sini, maklum baru kali ini menggelar acara besar. Dengan panitia dari member sendiri yang notabene juga disibukkan oleh bisnis masing2, mereka masih sempat menyisihkan waktu untuk mengurus pelaksanaan Milad tsb. Bravo buat panitia, terutama Bu Ketua.
Ulasan lengkap tentang Milad sdh banyak diulas teman2 di blog masing2. Kali ini aku ingin menampilkan foto foto yang tdk dipublish di web maupun blog teman2. Iseng karya paparazzi:
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
19:35
1 komentar
Juni 30, 2008
Zona Nyaman Itu Memang Nyamannn !!!
Seminggu berada di habitat lama, di Paiton, kompleks perumahan karyawan tempat suami bekerja (masih TDB) tenang banget, ayem, sepi. Aktivitas ibu2 di sana dari dulu sampai sekarang tetepp sama, momong anak...ngantar anak sekolah...urusan rumah tangga lainnya...sesekali ikut arisan...sesekali juga ikut seminar yang diadain kantor...belanja di kota kecamatan terdekat...nunggu suami pulang kantor...kadang weekend tamasya ke luar Paiton. Yah...hidup sudah berhenti di situ.
Setiap tahun nunggu kenaikan gaji (yg makin tahun kenaikannya tambah mengecil, bukan membesar), kalau uang sdh ngumpul ganti mobil yang lebih baru. Kalau soal mobil...wah, selalu saja ada cerita ganti mobil baru...ada yang ganti...ada yang nambah...iya nambah mobil, jadi sekeluarga ada 2 mobil. Bukankah bertentangan dg prinsip2 Kiyosaki...ahh itu cuma bagi sebagian orang.
Apakah itu salah, saat ini aku sedang tidak berbicara tentang baik buruk. Hidup adalah pilihan. Kadang pilihan menjadi entrepreneur sangat berisiko..hidup jadi tidak tenang, selalu dipaksa berpikir lebih keras..dan tentu lebih menantang..yah ini memang subjektif.
Teringat dengan novel (Coelho'isme...lagi??), kamu bisa saja mengabaikan mimpi2 untuk mengubah takdir..tapi kamu tidak akan pernah ke mana mana. Dan jika suatu saat ada pertanyaan dari lubuk hati "Apa yang kau lakukan dg semua mukjizat yang Tuhan berikan dalam hidupmu? Apa yang kau lakukan dengan semua karunia yang dilimpahkan padamu? Kau telah menyia nyiakan hidupmu".
Orang yang takut mengambil risiko, mungkin tak kan pernah kecewa, mungkin ia tak kan pernah menderita layaknya orang yang mengejar impian.
Apakah orang yang mengejar impian...hidupnya akan lebih berharga? Jawaban itu hanya ada di dalam hati Anda sendiri...sangat 'private'. Sekali lagi hidup adalah pilihan...dan semua pilihan nilainya sangat subjektif.
Dan zona nyaman itu memang sangat nyamann sekali.
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
20:18
2
komentar
Juni 12, 2008
TDA Membuat Pasangan Kita Cemburu???
Hmm pasti banyak yang merasakan. Memang jika masuk ke suatu komunitas yang kita sukai akan menyedot perhatian, waktu, tenaga, pikiran kita untuk terlibat lebih dalam di aktivitas komunitas. Sepeti di bukunya Brian Tracy 'Create Your Own Future', dia menyatakan hubungan sangat penting bagi orang yang ingin sukses. Keluar dan temuilah orang lain, bergabunglah dengan orang orang yang tepat. Jika sudah menemukan komunitas yang tepat, maka berkontribusilah. Dengan terus memberi tanpa mengharapkan imbalan, kredibilitas Anda akan meningkat. Segera Anda akan menjadi seorang pemain kunci di organisasi dan menjadi anggota yang berharga.
Dibalik aktivitas tsb, pasti ada sejuta masalah. Salah satu adalah dari pasangan kita, bisa jadi hal tsb memicu kecemburuan.....dan itu wajar ....manusiawi. Iyalah...bagaimana gak cemburu, sebagian besar perhatian, waktu, tenaga, bahkan materi tersedot untuk keperluan organisasi/komunitas. Komunikasi kita dengan pasangan juga lebih banyak porsi seputar komunitas. Dan komunikasi itu hanya satu arah, hanya kita yang bercerita, pasangan hanya sebagai pendengar, hanya melihat eforia kita tanpa ikut merasakan. Bisa bisa dia akan menghindari pembicaraan tentang hal tsb.
Cemburu jangan dilawan dengan kemarahan, apalagi menyudutkan pasangan dengan argumen bahwa pasangan kita tidak mendukung langkah kita ke arah kesuksesan. Dukungan tidak akan diberikan dengan cara frontal seperti itu. Malah bisa jadi pasangan akan semakin defensif dan yang paling gawat adalah membenci komunitas kita.
Cara yang aman, ajak pasangan kita di setiap kegiatan komunitas. Biarkan dia terlibat di setiap interaksi dengan anggota komunitas. Ajak dia berdiskusi. Jangan biarkan hanya sebagai pendengar saja.
Bagaimana denganku sendiri, karena aku dan pasangan sama sama terlibat di komunitas ya tidak ada rasa cemburu. Mungkin si kecil yang kadang protes, karena waktu mainnya dengan orang tua jadi berkurang. Apalagi waktu ketemu aku dengan pasangan hanya pas weekend, Sabtu Minggu ketemu untuk urus ini urus itu, belum lagi kalau ada acara TDA yang berjam jam....gak mungkin acara TDA cuma sejam. Nah untungnya di sini setiap ada kegiatan kita selalu bersama....wuihhh.
Satu lagi masalah, dan ini yang paling gawat. Bagaimana kalau yang cemburu adalah bisnis kita? Hah...iyalah bisa saja terjadi. Alih alih ikut komunitas untuk me-leverage bisnis kita, malah kita yang terlalu larut dalam aktivitas komunitas, sedangkan bisnis agak terabaikan. Kalau ini yang terjadi, 'blue print'-nya yang harus diubah, blue print mind set kita tentang bisnis.
Bagi pemula bisnis yang bisnisnya masih tergantung penuh pada kehadiran kita, ya fokus utama adalah bisnis, komunitas adalah pendamping saja. Jangan sampai kita terlalu larut oleh segala hiruk pikuk komunitas.
Hmm, hidup harus harmonis memang, tidak ada orang sukses yang rumah tangganya tidak harmonis.
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
07:41
0
komentar
Juni 06, 2008
Ber-KB Mantap Ternyata Tidak Mudah
Untuk memutuskan ikut KB mantap (Tubektomi/Vasektomi) ternyata tidak mudah. Halangan utama adalah kemauan spesialis kandungan untuk melaksanakannya. Ada etika tak tertulis dari para ginekolog untuk sebisa mungkin tidak meghilangkan fungsi organ tubuh yang masih sehat.
Ini pengalaman sendiri, betapa alotnya berargumen dengan seorang dokter untuk meminta melakukan sterilisasi bagi mereka yang baru punya 2 anak, lain halnya kalau sudah punya anak 3. Padahal organ tubuh yang akan disteril adalah organ kita sendiri, bukankah itu hak pasien. Argumen mereka kuat sekali, bahwa mereka takut itu adalah keputusan sesaat yang nantinya akan disesali, karena mengembalikan fungsi organ reproduksi yang telah disteril adalah hal rumit, secara teori sih bisa, tapi prakteknya tidak selalu berhasil. Itu khusus untuk para Ibu.
Lain hal kalau KB mantap untuk para Bapak, pemerintah banyak membangun layanan pusat vasektomi, bahkan ada mobil berjalannya yg bisa melakukan operasi tsb. Nah bukankah saat yang tepat untuk menggugah partisipasi para Bapak untuk ikut KB. Vasektomi adalah operasi kecil, dengan bius lokal, dengan cara membuat sayatan kecil pada skrotum dan menarik saluran sperma untuk diikat, kemudian mengembalikan saluran tsb, dan terakhir menutup luka sayatan. Praktis, pasien bisa langsung pulang tanpa rawat inap.
Bagiku Tubektomi saat ini sangat penting, selain karena tidak pernah berencana punya 3 anak, juga karena kehamilan yang sekarang betul2 menguras tenaga dan emosi. Bawaan jadi mual dan lemes bahkan sampai semester 2 kehamilan, hidup jadi kurang produktif. Tidak ada lagi rencana untuk hamil lagi. Aku takut waktuku tidak cukup buat anak anak. 3orchid sedang mempersiapkan fasilitas untuk ekspor, dan banyak target2 ikut pameran di luar Jawa yang menjanjikan.
Bagi seorang Ibu, melahirkan dan punya bayi adalah totalitas. Jika dia bekerja pasti pikirannya hanya tertuju ke bayinya. Dan mempercayakan perawatan bayinya pada orang lain adalah siksaan. Karena itu para Ibu sekarang sadar betul akan hal itu, dan mereka memilih membatasi jumlah anak. Hal yang sangat bagus, kita punya keterbatasan, sangat bijaksana jika bisa mengukur kemampuan diri sendiri berapa anak yang sanggup kita rawat. Ini juga argumen Shirin Ebadi, feminis muslim Iran idolaku, untuk meng-counter pendapat ulama yang tidak menyetujui KB.
Kesulitan untuk tubektomi (dengan kondisi 2 anak) aku pikir adalah masalahku sendiri, tapi ternyata banyak teman yang mengungkapkan masalah yang sama. Jadi mereka menganjurkan suaminya yang ikut KB (vasektomi), toh prosedurnya lebih mudah.
Tapi dari beberapa teman juga ada yang menentang vasektomi, dengan alasan agak menggelikan, takut suaminya gampang nyeleweng. Lho kok? Iyalah Laki2 yang sudah di-vasektomi gak punya beban akan bisa menghamili perempuan lain...ha..ha jadi lebih gampang nyeleweng. Ternyata perempuan sendiri juga yang menghalangi partisipasi para Bapak untuk ikut ber-KB.
Diposkan oleh
Dyah Purana
di
11:39
4
komentar
